Minggu, 03 November 2024

 


          CIRI NASIONALISME INDONESIA

Oleh : Yanuar Iwan. S.

Indonesia bangsa yang besar mulai dari wilayah, jumlah penduduk, heterogenitas, budaya, dan dari sisi sejarahnya. Sejarah Indonesia membentuk pondasi nasionalisme mulai dari perjuangan para pemuka agama, kaum intelektual, dan perjuangan bersenjata dalam revolusi fisik (1945-1949). Nasionalisme atau perasaan kebangsaan menemukan bentuknya dalam proses dan tahapan revolusi dengan pengorbanan harta, jiwa dan raga, nasionalisme mengikatkan diri dalam hubungan darah antara manusia dengan nusa dan bangsanya. Indonesia memiliki jiwa nasionalisme dengan ciri tertentu yang membedakannya dengan nasionalisme negara lain, nasionalisme Indonesia terdiri dari:

1. Nasionalisme Universal adalah nasionalisme yang bertujuan membentuk karakter masyarakat dunia yang saling menghargai, menghormati, menjunjung hukum internasional atas dasar kemerdekaan dan perdamaian abadi. Nasionalisme Indonesia sangat berbeda dengan pemahaman ultra nasionalisme yang dikembangkan Zionis Israel, Partai Nazi Jerman di bawah Hitler, Fasisme Italia Benito Musolini, dan Fasisme militer Jepang. Nasionalisme Indonesia dasarnya adalah penghargaan terhadap kemerdekaan, kemanusiaan, anti penindasan, dalam konsep keadilan dan kesetaraan antar bangsa.

2. Nasionalisme Menggerakkan adalah nasionalisme Indonesia yang bukan saja melawan kejahatan dan penindasan akan tetapi nasionalisme dengan mewujudkan perbuatan baik demi kehormatan dan martabat bangsa. Seperti yang dilakukan Veddriq Leonardo dan Rizki Juniansyah dengan mmpersembahkan medali emas Olimpiade Paris di cabang Panjat tebing dan Angkat besi.

3. Nasionalisme Egaliter (kesetaraan) sikap dan tindakan kesetaraan untuk memperkokoh persatuan dan kesatuan dalam bentuk solidaritas sosial seperti yang di tunjukan Sultan HB IX, alkisah, seorang tukang bakul beras dari Kaliurang, Yogyakarta, menghentikan jip yang tengah meluncur keselatan. Tukang bakul beras ini hendak berjualan di Pasar Kranggan. Ia biasa menumpang kendaraan yang lewat. Begitu jip berhenti, ia menyuruh sopir menaikkan karung-karung berasnya. Sesampainya di pasar, sopir pun menurunkan karung-karung itu.

Namun, ketika si mbok bakul hendak membayar ongkosnya, dengan sopan si sopir menolak. Sang tukang bakul pun marah-marah, mengira sopir meminta bayaran lebih. Sopir itu, tanpa berkata apapun, segera melajukan jipnya. Polisi yang melihat kejadian itu mendekati tukang bakul beras yang tengah marah-marah. "Tahu siapa sopir tadi?"tanya polisi itu. Tukang bakul beras itu menjawab, "SOPIR ya sopir. Tidak perlu tahu namanya. Memang sopir yang satu ini agak aneh." Polisi lalu memberitahu dia, bahwa sopir tadi adalah Sri Sultan Hamengkubuwono IX, Raja Ngayogyakarta. Mendengar hal itu pingsanlah si mbok tadi (Tahta untuk Rakyat; biografi Sri Sultan HB IX, SK Trimurti).

Nasionalisme kesetaraan juga di tunjukkan Bung Karno ketika berpolemik dengan Mohammad Natsir mengenai Islam sebagai Way of Life. kesediaan Bung Karno untuk mendengar, menyimak, membaca pikiran-pikiran Natsir yang kala itu menggunakan nama samaran patut di apresiasi.

4. Nasionalisme Untuk Kepentingan Rakyat adalah nasionalisme mengutamakan kepentingan rakyat di atas kepentingan pribadi dan golongan. Seperti yang dilakukan John Lie yang berjuang bertaruh maut  menyelundupkan persenjataan untuk TNI dan gerilyawan republik dari Singapura ke Indonesia, bagi John Lie tidak ada batas pembeda antara keturunan China dan pribumi. batas pembeda terletak pada sikap patriotisme dan pengkhianatan, korupsi dan merugikan kepentingan nasional.

5. Nasionalisme yang Membebaskan, nasionalisme yang membebaskan dari tirani, penindasan, aroganisme kekuasaan, dan oligarkhi seperti nasionalisme yang di tunjukkan oleh para mahasiswa yang berdemonstrasi menentang revisi UU pilkada oleh DPR yang terindikasi menguntungkan salah satu calon kepala daerah dan perjuangan mahasiswa dalam reformasi 98. 

Semangat nasionalisme adalah semangat perjuangan, semangat rela berkorban, semangat idealisme, yang mengesampingkan ego dan kepentingan pribadi, semangat anti korupsi, semangat kejujuran, dan hidupkan dan gelorakanlah kembali semangat tersebut.


Sri Sultan Hamengkubuwono IX







Kamis, 26 September 2024

  

      

FAKTA-FAKTA SEJARAH PKI MELAKUKAN KUDETA 1965

          Oleh: YIS 

         

           

Bangsa yang tidak belajar dari sejarahnya akan dipaksa untuk mengulanginya (George Santayana Filsuf Spanyol)

Sejarah menjadi kajian strategis kritis yang menjadi memory bersama untuk membentuk karakter kebangsaan dan pengukuhan ideologi suatu bangsa oleh karena itu sejarah menjadi rentan untuk di "rekayasa". Sejarah tidak perlu diaktualisasi, sejarah selalu aktual, menarik, dinamis dan kritis untuk dipelajari.

Sejak reformasi peristiwa berdarah G.30.S/PKI menjadi polemik yang tidak berkesudahan karena ada upaya untuk mengaburkan peristiwa tersebut. Korban menjadi pelaku dan pelaku menjadi korban. Secara penulisan sudah ada pihak-pihak yang ingin merubah G.30.S/PKI menjadi G.30.S. Ada upaya-upaya sitematis The Invisible Hand untuk memutarbalikan fakta-fakta sejarah. Saya mendukung penggunaan istilah G.30.S/PKI dan bukan G.30.S karena PKI secara pimpinan dan organisatoris adalah pelaku utama peristiwa berdarah tersebut. Gerakan 30 September adalah puncak menuver kudeta PKI untuk merebut kekuasaan dari pemerintah yang sah. Fakta-fakta sejarah yang menjadi bukti keterlibatan PKI bisa dikemukakan sebagai berikut:

1. Pada 1954 dalam kongres PKI ke-V di tetapkan tiga bentuk metode perjuangan PKI dalam usaha merebut kekuasaan. Perang gerilya di desa, memberantas setan-setan kota, dan melakukan infiltrasi kedalam angkatan bersenjata.

2. Mahkamah militer luarbiasa mengungkap adanya Biro Khusus dibawah Syam Kamaruzaman untuk merencanakan, mengkoordinasikan upaya kudeta pada September 1965 Biro Khusus juga bertugas merekrut para perwira berhaluan maju progresif revolusioner dijajaran angkatan bersenjata khususnya Angkatan Darat. Biro Khusus PKI bertanggungjawab langsung kepada Ketua CC PKI D.N. Aidit.

3. Aksi-aksi sepihak PKI diberbagai daerah pada 1950-1965 khususnya yang terjadi di pelosok-pelosok pedesaan dengan metode kekerasan brutal kepada lawan-lawan politik, kaum ulama, ormas Islam, golongan nasionalis seperti peristiwa Jengkol, peristiwa Bandarbetsy, peristiwa Kanigoro mirip seperti apa yang dilakukan Partai Komunis China dibawah Mao tse tung dengan strategi desa mengepung kota pada 1949. Aksi-aksi sepihak PKI adalah upaya unjuk kekuatan dan konsolidasi PKI khususnya dalam menghadapi musuh besarnya Angkatan Darat.

4. Melakukan operasi-operasi intelijen yang dilakukan Badan Pusat Intelijen dibawah Subandrio. Dokumen Gilchrist dan Dewan Jenderal adalah hasil kerja BPI dan Biro khusus PKI dibawah Syam Kamaruzaman. Mengingat begitu dekatnya Bandrio dengan Bung Karno tentu ada pengaruh dan upaya mempengaruhi Bung Besar khususnya dalam kebijakan politik. Renggangnya hubungan antara Bung Karno dengan Letnan Jenderal Ahmad Yani menjelang G.30.S/PKI adalah hasil kerja dan fitnah yang dilancarkan secara masif oleh Biro Khusus. Dalam sidang Mahmilub perintah untuk membunuh para jenderal Angkatan Darat berasal dari Syam Kamaruzaman.

5. Suasana dan keadaan politik pada 1960an sarat dengan kekerasan verbal, persekusi, ancaman, propaganda, pembakaran buku-buku yang bertentangan dengan ideologi Komunis. Lembaga Kebudayaan Rakyat (LEKRA) dibawah Pramudya aktiv menghancurkan kelompok-kelompok Islam dan nasionalis untuk menciptakan kebudayaan proletariat versi komunis.

6. Upaya PKI untuk membentuk angkatan ke-V milisi yang terdiri dari buruh dan tani yang berhak menggunakan senjata. Adalah bagian rencana PKI untuk memiliki angkatan bersenjata sendiri bagian dari rencana besar PKI untuk melakukan kudeta sesegera mungkin di tahun 1965. PKI khawatir bahwa Bung Besar akan menunjuk Letnan Jenderal Ahmad Yani sebagai penggantinya dan PKI akan disingkirkan dari penggung politik nasional. Pembentukan Angkatan ke-V ditolak oleh Menkohankam/Kasab Jenderal Nasution dan Menpangad Letnan Jenderal Ahmad Yani yang mengerti benar strategi PKI.

7. Harian Rakyat (Koran PKI) dibawah Nyoto (anggota Politbiro PKI) dalam terbitannya pada 2 Oktober 1965 mendukung G.30.S/PKI lengkap dengan gambar karikatur jenderal-jenderal Angkatan Darat  yang jatuh dari jurang.

Ideologi Komunis adalah ideologi yang bertentangan dengan prinsip-prinsip kemanusiaan universal, 95 juta orang diseluruh dunia telah menjadi korban keganasan Komunisme, ribuan orang mengalami trauma kekerasan di Rusia, Kamboja, China, dan negeri tercinta Indonesia. Dan kita berharap dengan mempelajari Sejarah, peristiwa berdarah G.30.S/PKI tidak terulang kembali.





              Pak Nas dan Pak Harto menghadiri Upacara penghormatan kepada iring-iringan jenasah korban kebiadaban PKI. Pada 5 Oktober 1965